PAINTINGS not just inked brush strokes. It contains the meaning and even commercial value.
SEBUTLAH kolektor lukisan Syakieb Sungkar, kecintaannya pada dunia seni lukis membuatnya tergerak untuk datang dari satu pameran ke pameran yang lain dua kali dalam sepekan seperti Galeri Nasional Indonesia, Galeri Canna atau juga Selasar Sunaryo Art Space di Bandung. Sejak tahun 1995 hingga kini ia telah berhasil mengoleksi lukisan lebih dari 100 buah yang ia simpan di kediamannya.
Syakieb Sungkar mengoleksi lukisan yang banyak disukai oleh orang lain seperti karya Affandi, Ahmad Sadali, Agus Suwage, Hendra Gunawan. “Saya suka lukisan yang banyak disukai oleh orang lain, mudah dicerna, lukisan yang ‘manis-manis’ daripada yang seram-seram, berwarna cerah daripada yang berwarna gelap suram dan menggambarkan tentang wanita,” ujarnya.
Ia kemudian bercerita, koleksi termahalnya adalah lukisan Hendra Gunawan dengan judul “Penari Ular”. Sayangnya ia menolak menyebutkan berapa harga yang ia beli untuk menukarnya dengan rasa suka dan kagum pada seni lukis.
Membicarakan perkembangan seni lukis tentu akan menjadi sangat menarik jika kita juga membicarakan perkembangan teknik pewarnaan yang beragam. Pada zaman Mesir kuno, kuning telur dan gelatin digunakan untuk mengaplikasikan pigmen berwarna ke permukaan. Saat fresko berkembang di Italia, saat inilah dikenal cat air di dinding sekitar 2000 SM.
Periode Sung pada abad 15 di China, tinta mulai dikenal sehingga kaligrafi di sana semakin berkembang. Pada saat yang sama, di Eropa selatan, pigmen cat air yang dikombinasikan dengan karet dari Arab dan gliserol yang diencerkan dengan air. Akrilik mulai dikenal setelah Perang Dunia II, warna-warna yang dihasilkan oleh cat akrilik menuai pujian sangat tegas dan brilian. Lukisan bisa bernilai tinggi sehingga sangat mungkin untuk berpindah tangan bagi seorang kolekdol (koleksi-didol (bahasa Jawa yang berarti dijual). Itu hanyalah terjadi di masa kini, saat lukisan mulai menjadi hiasan di dinding rumah yang berperan sebagai penentu status sosial pemiliknya.
Berbeda dengan lukisan pada zaman pra sejarah yang hanya ditorehkan pada medium dinding gua dengan pewarna alam seperti deadunan, umbi, arang, dan kapur. Pada saat ini objek yang tergambar umumnya adalah alam, manusia, pohon dan hewan yang dilukis dengan cara pencitraan. Citra yang dimaksud adalah, penonjolan bagian-bagian tertentu yang paling mengesankan atau mewakili dari sesuatu hal. Itulah mengapa objek menjadi berbeda tergantung pemahaman masyarakat setempat.
Fresko dekoratif Dewi Eropa dan Sang Lembu hanyalah satu dari sekian banyak fresko yang menjadi saksi adanya lukisan di zaman berkembangnya seni lukis klasik. Fresko ini berada di Kota Pompeii, dekat Kota Napoli dan kini berada di wilayah Campania Italia menjadi penanda berkembangnya grafiti yang sering dipahat di dinding untuk memberitahukan nama jalan. Kota yang pernah hancur karena letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi ini terkubur dan ditemukan kembali 1.600 tahun kemudian.
Kota Pompeii kini menjadi situs warisan dunia UNESCO. Lukisan pada masa kini berkembang seturut dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan menjadi media untuk berkomunikasi yang baik dibandingkan dengan kata-kata. Tidak heran jika kemudian lukisan di zaman ini digunakan sebagai alat propaganda dan mistisme akhibat agama belum berkembang di saat itu. Agama yang mulai dikenal di abad pertengahan menjauhkan seni lukis dari ilmu pengetahuan yang dianggap bisa menjauhkan manusia dari Tuhan. Itulah mengapa seni lukis tidak lagi sejalan dengan realitas. Simbolisme dan abstrakisme menjadi lebih berkembang daripada realisme. Di sebuah kota kelahiran renaissance pada abad 14 hingga 16, Firenze, Florence atau Florentia dikenal sebagai pusat budaya, keuangan, dan ekonomiyang penting di Eropa.
Saat inilah seni menemukan jiwa barunya dalam kelahiran kembali seni zaman klasik. Sains di kota ini tidak lagi dianggap sihir. Pengaruh seni di kota ini kemudian menyebar ke seluruh Eropa hingga Erpa Timur. Masa kebebasan berkesenian ini melahirkan seniman-seniman handal seperti Tomassi, Donatello, Leonardo da Vinci, Michaelangelo dan Raphael Sanzio.
Penemuan mesin uap sempat membuat keahlian tangan seniman tidak dihargai karena tergantikan dengan kehalusan buatan mesin yang selain bisa membuat karya secara massal, mesin juga bisa memroduksi lebih banyak. Revolusi industri di Inggris pada akhir abad 18 hingga awal abad 19 ini kemudian melahirkan mekanisasi dalam banyak hal.
Michaelangelo
Michaelangelo Buonarroti lebih tepat dikatakan sebagai perupa. Selain dikenal menjadi seorang pelukis ia juga gemar dan lihai pemahat, sebagai pujangga, dan arsitek cemerlang zaman Renaissance. Karya-karya Michaelangelo seperti Patung David, Pietà, dan Fresko di langit-langit Sistine’s Chapel masih bisa dinikmati hingga kini dan ia termasuk dalam salah satu dari 10 pelukis terbaik di dunia.
Leonardo da Vinci
Siapa yang tidak pernah melihat lukisan Jamuan Terakhir dan Mona Lisa yang merupakan karyanya? Ia salah seorang perupa yang dikenal sangat jenius karena banyak hasil desainnya yang mampu mengantisipasi teknologi modern tetapi jarang dibuat semasa hidupnya. Ya, ia bukan hanya handal sebagi pelukis Renaisans Italia, namun ia dikenal juga sebagai arsitek, musisi, penulis, dan pematung. Ia bahkan ikut memajukan ilmu astronomi, anatomi, teknik sipil dan juga kuliner. Lukisannya Mona Lisa, atau La Gioconda menjadi lukisan yang paling banyak dibicarakan orang dan sangat kontroversial. Akhir tahun 2010 lalu, Silvano Vinceti, presiden Komite Warisan Budaya Italia memberikan pernyataan mengejutkan bahwa ada simbol yang disembunyikan Da Vinci di mata kanan lukisan Mona Lisa yaitu huruf LV yang sangat dimungkinkan merupakan inisial nama Leonardo da Vinci. Lukisan ini kini tersimpan di Musee du Louvre di Paris, Prancis.
Vincent van Gogh
Pelukis pasca-impresionis Belanda, Vincent van Gogh dianggap sebagai salah satu pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa. Meski ia menderita epilepsi, paling ektrem ia pernah memotong telinganya sendiri dan kemudian sakit jiwa hingga akhir hayatnya ia tetap produktif menghasilkan karya yang luar biasa. Starry Night atau Malam Berbintang merupakan karya lukisnya yang sangat dikenal. Meski dikenal, lukisan itu bukanlah yang termahal, ada 3 lukisan termahalnya yaitu Bunga-bunga Iris, Portrait de l’artiste sans barbe , dan Potret Dr. Gachet . Kini lukisan-lukisannya tersimpan di Van Gogh Museum yang ada di Belanda.
Pablo Ruiz Picasso
Pelukis paling produktif yang tercatat dalam sejarah sebut namanya, Pablo Ruiz Picasso karena ia berhasil menghasilkan 20.000 karya sepanjang 91 tahun masa hidupnya. Di usia 14 tahun, ia lulus ujian masuk School of Fine Arts di Barcelona, kemudian pindah ke Royal Academy di Madrid, pindah lagi ke Els Quatre Gats di Barcelono dan terakhir ia memutuskan pindah ke Paris, kota pusat seni dunia pada masa ia berusia 23 tahun. Karyanya dikenal mencerminkan kepribadiannnya yang kuat, egois dan bebas sehingga menghasilkan karya yang berkesan kontroversial dan sangat ekspresif. Perempuan menjadi sumber inpirasinya untuk melukis. Kekasihnya, Marie-Terese Walter, ia wujudkan dalam karya La Reve (The Dream) yang awalnya laku terjual US$48.402.500. Dari kekasihnya yang lain, Eva Gouel, terlahir lukisan Femme Assise Dans Un Fauteuil, yang termasuk salah satu adikarya gaya kubistis. Karya La Reve, pernah dibeli di Galeri Christie’s tahun 1997 oleh Wolfgang Flöttl (Austria), namun pada tahun 2001 ia menjualnya ke raja kasino Steve Wynn dengan nilai US$60 juta.
Raphael Sanzio
Atau yang dikenal denganRafaello Sanzio yang tidak pernah menikah ini adalah ahli lukis dan merupakan arsitek tercemerlang Italia pada masa High Renaissance. Gereja merupakan mediumnya untuk melukis, salah satu karya awal Raphael yang masih tersimpan hingga kini adalah lukisan altar untuk Gereja San Nicola da Tolentino dan kemudian beberapa karya lainnya yang terkenal adalah saat ia membuat fresco di Libreria Piccolomini, Siena. Fresko merupakan teknik melukis pada dinding dengan cara memberikan pigmen pada plester dinding yang baru dilapisi. Ia kemudian dikenal dengan gaya lukisnya yang kontemporer.
Rogier Van Der Weyden
Ia adalah pelukis yang zaman awal Belanda. Lukisannya berbicara banyak tentang gereja dan Yesus Kristus. Contoh lukisannya yang cukup terkenal adalah tentang sakramen, The Seven Sacraments, penyaliban Yesus, The Descent from the Cross yang kini ada di Museo del Prado, Madrid dan lukisan biarawati Portrait of a Woman yang kini berada di Staatlichen Museum, Berlin. Rembrandt Dalam sejarah seni Eropa, sulit sekali meninggalkan jejak-jejak Rembrandt sebagai salah satu maestro lukis terbesar asal Belanda. Lukisannya tidak jauh berbeda teman dengan Rogier Van Der Weyden yang mengisahkan tentang kehidupan gerejawi. Lukisannya yang terkenal adalah Rasul Petrus Menyangkal Kristus, Kebangkitan Lazarus, dan Kristus di Emaus yang dibuatnya lebih dari 1 versi.
Pierre-Auguste Renoir
Ia adalah seniman Prancis yang sangat terkemuka dan berpengaruh dalam pengembangan gaya impresionis. Ia menyukasi sensualitas feminim . Karyanya yang terkenal adalah Bal du moulin de la Galette, Luncheon of the Boating Party, dan Nude yang dibuatnya dalam berbagai banyak versi dan sudut pandang berbeda, objeknya tetap sama, perempuan.
Sandro Botticelli
Seorang pelukis Italia tepatnya dari masa Renaissance awal. Nama besar ia peroleh justru setelah ia meninggal tepatnya pada akhir abad 19 karena karya-karyanya terlihat menjadi contoh utama betapa anggunnya karya-karya zaman Renaissance awal. Lukisannya yang terkenal adalah Primavera, dan Kelahiran Venus.
Peter Paul Rubens
Ia adalah penukis Eropa paling terkenal pada abad 17 yang menulis dengan gaya Baroque. Lukisan-lukisannya memiliki sentuhan sensual bahkan beberapa di anatranya dianggap erotis. Ia tidak segan-segan melukis perempuan gemuk sebagai objek-nya yang pada zamannya, perempuan gemuk dianggap sensual, contohnya adalah dalam lukisan Leda with Swan dan The Three Graces, Tiga perempuan telanjang yang terlihat dari arah belakang.
Frida Kahlo
Pelukis Meksiko yang sangat sering mengekslorasi dirinya sebagai objek dalam lukisan-lukisannya, ia lihai mengombinasikan gara realism, simbolisme dan surrealisme. Frida menerjemahkan “sakit” dalam lukisan dirinya. “I am not sick, I am broken but I am happy to be alibe as long as I can paint,” ujarnya. Bakatnya semakin tumbuh setelah ia bersuamikan muralis dan pelukis beraliran kubisme Meksiko Diego Rivera. Lukisannya yang terkenal adalah Self-Portrait in a Velvet Dress dan Frieda and Diego Rivera.
10 Lukisan Termahal di Dunia
1.Portrait of Adele Bloch-Baeur – Gustav Klimt (Austria), harga US$135 juta atau Rp 1,5 triliun.
2.Garcon a la Pipe- Pablo Ruiz Picasso (Spanyol), hargaUS$140,1 juta atau Rp 1,15 triliun.
3.Dora with Cat – Pablo Ruiz Picasso (Spanyol), harga US$95,2 juta atau 1,05 triliun.
4.Portrait of Dr Gachet – Vincent van Gogh (Belanda), harga US$ 82,5 juta atau Rp 908 miliar.
5.Bal Au Moulin de la Gallet – Pierre-Auguste Renoir (Prancis), harga US$78 juta atau Rp 858 miliar.
6.Massacre of the Innocents – Peter Paul Rubens (Eropa), harga US$76,7 juta atau Rp 844 miliar.
7.Portrait de I’artiste sans barbe – Vincent van Gogh (Belanda), harga US$ 71,5 juta atau Rp 787 miliar.
8.La Reve – Pablo Picasso, harga US$60 juta
9.Rideau, Cruchon et Compotier – Paul Cezane (Prancis), harga US$ 60,5 juta atau Rp 666 miliar.
10.Femme aux Bras Croises – Pablo Ruiz Picasso (Spanyol), harga US$55 juta atau Rp 605 miliar.
Lukisan Primadona Bagaikan Investasi Saham
BALAI lelang Sotheby’s New York menggelar A Discerning Eye Latin American Masterpieces, sementara Balai Lelang Christie’s, New York sedang mengadakan menggelar lelang lukisan Latin American Sale, 20th Century British & Irish Art dan Arts Décoratifs du XXème Siècle & Design. Balai-balai lelang ini melakukan pameran sekaligus ‘menjual’ lukisan-lukisan primadona yang mempunyai nilai investasi tinggi.
Menurut Amir Sidharta dari Sidharta Auctioneer Indonesia mengungkapkan bahwa lukisan sama seperti saham yang bisa mempunyai nilai naik dan turun. Di Indonesia beberapa nama pelukis handal Lee Man Fong, Hendra Gunawan, Affandi, Hendra Gunawan, Sudjojono, Agus Suwage, Nyoman Masriadi, Aytjoe Christine dan Rudi Mantofani termasuk dalam pelukis yang karyanya beroket dari sisi komersial. Konon masih menurut Amir, salah satu karya Hendra Gunawan laku dijual Rp18 miliar di Balai Lelang Sotheby’s Hongkong.
Meski harganya melejit, tidak semua pelukis mempunyai peluang yang sama dengan pelukis papan atas. Salah satu faktornya adalah kepercayaan akan nama besar dan juga akibat pasar modal yang meningkat sangat tajam pada tahun 2007. Booming pasar modal pada tahun 2007 secara tidak langsung memengaruhi harga koleksi lukisan hingga 5 kali lipat dalam waktu 6 bulan. Namun sayangnya pasar modal kembali jatuh di tahun 2008 sehingga harga lukisanpun ikut turun. “Seandainya tahun 2007 tidak terjadi “booming’ pasar modal, mungkin pada tahun berikutnya harga lukisan masih bisa tetap naik.
Pasar modal dan kolektor lukisan mempunyai hubungan yang sangat erat karena mereka yang mengoleksi lukisan mengganggap barang seni sebagai portfolio investasi sama seperti saham,” jelas Amir Sidharta. Ia menjelaskan juga mengenai faktor-faktor yang memengaruhi nilai komersial sebuah lukisan, yaitu nama pelukis dan juga keindahan karya. Hal lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan manajerial pelukis atau tim-nya. Tim yang baik mampu menjadi ‘sekutu’ untuk menciptakan pasar sekaligus permainannya.
Kuss Indarto, kurator Galeri Nasional Indonesia mengungkapkan bahwa penting bagi seorang pelukis tetap berkarya secara berkelanjutan sehingga mempunyai reputasi yang bagus. “Misalnya mereka tetap konsisten menghasilkan karya hebat, dilirik oleh kurator, dan juga rajin mengikuti event kesenian perupa seperti Biennale dan Triennale. Jadi mereka tidak hanya mampu menghasilkan karya, namun juga mempunyai kemampuan membangun jejaring,” ujarnya.
Ir Soekarno, Presiden Pertama RI dikenal sebagai kolektor lukisan dengan cita rasa luar biasa hebat pada kesenian, di masa kini, Ciputra, Sunarjo Sampoerna , Oey Hong Djie, Rudy Akili dan Dedy Kusuma juga dikenal sebagi kolektor lukisan. Mengoleksi lukisan atau karya seni juga mampu menciptakan kesan intelek dan cita rasa tinggi sehingga mencerminkan simbol status seseorang bukan hanya masalah ekonomi.