Kerinduan dan dahaga seperti apakah yang dialami Moza Pramita hingga sudi meleburkan diri dalam sebuah pertunjukan tari kolosal?
YA, Moza tidak akan tampil di atas pentas atau di layar kaca seperti ia membawakan beberapa program acara di stasiun televisi. “Saya menangani publikasi untuk pentas seni kolosal Matah Ati. Saya anak baru di dunia ini. Awalnya diajak,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 2 Februari 1976 ini dengan penuh semangat saat ditemui Jumat (6/5) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Siang itu, di kediaman Atilah Soeryadjaya– penulis naskah, produser, sekaligus sutradara serta penata kostum dalam pergelaran Matah Ati–Moza terlihat tengah sibuk berkoordinasi dengan beberapa orang dalam tim Matah Ati.
Termasuk sang sutradara, Atilah, dan Fajar Satriadi, asisten sutradara yang juga menjadi tokoh utama, Raden Mas Said. Pertunjukan itu akan digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 13-16 Mei 2011.
Moza terlibat dalam kesibukan mengatur jadwal untuk wawancara, siaran, korespondensi,dan publikasi lainnya. Menurut Moza, banyak kejadian di dalam proses produksi Matah Ati yang mengejutkan dan dirasakannya merupakan campur tangan Tuhan. “Semua seperti sudah ada jalannya, seperti bertemu dengan tokoh utama, Mas Fajar (Fajar Satriadi) yang sudah menjadi asisten sutradara, tetapi kemudian seperti ditunjukkan bahwa beliau layak menjadi pemeran utama padahal kan sudah lama berproses dengan tim ini.” Moza juga merasakan banyak dukungan bekerja di dalam tim yang solid. Jatuh bangun, ganti sutradara, dan ganti pemain, itulah seleksi alam.
“Tapi kami akhirnya menemukan chemistry- nya, yang mengajak ‘ayo berangkat bersama, in the name of love’,” ujarnya. Moza telah bergabung dalam tim produksi pementasan Matah Ati beberapa bulan sebelum sendratari tersebut dipentaskan perdana di Singapura, pada Oktober 2010.
Ia yang saat itu turut serta ke ‘Negeri Singa’ mengaku sangat terharu menjadi saksi bahwa pertunjukan tradisi dan kontemporer itu justru diminati di luar negeri. “Penonton Indonesia tetap ada, tetapi itu tidak sebanding dengan penonton bule. Mereka juga tidak mengerti bahasa Jawa, tetapi dengan menyaksikan saja, mereka bisa terbawa dan bisa memahami, bahkan kami mendapatkan standing ovation selama pentas dua kali dalam dua hari,” tuturnya berkisah.
Kini Moza terlihat asyik menjalankan komitmen dalam dunia kesenian. Apa yang pernah dilakukannya di masa lalu adalah bekal dan ia merasa membutuhkan tantangan baru.
“Saya ingin punya banyak pengalaman, sesuatu yang baru, yang membuat saya terpacu untuk selalu belajar. Nah sebagai publicist di Matah Ati ini, tentu saja saya tertantang untuk menyampaikan konten-konten budaya Indonesia seperti opera Jawa ini yang tentu saja sangat berbeda dengan pertunjukan Broadway,” ujar mantan penyiar Hard Rock FM dan Cosmopolitan FM ini.
“Saya juga memberikan pertimbangan dan memutuskan, ketika berhadapan dengan media tertentu, siapa yang layak menjadi narasumbernya,” ia menambahkan.
Lupa budaya sendiri
Mengusung pergelaran yang dibawakan dengan konsep langendriyan (menari sekaligus menyanyi dalam bahasa Jawa) mungkin menjadi tantangan sendiri buat Moza. Namun, ia tak terlalu khawatir pesan yang dibawakan dalam tarian dan bahasa Jawa itu tidak tersampaikan kepada penonton.
“Ini adalah pertunjukan yang sama seperti ketika kita menyaksikan teater atau pertunjukan di Eropa, yang kita enggak ngerti bahasanya. Tetapi lebih dari itu, dengan kita menyaksikan yang indah secara visual, memahami gesture, kita tentu akan paham dan bahkan bisa merasakan. Sama seperti Matah Ati, visualisasi yang digarap Jay Subyakto sebagai penata artistik tentu akan menyibukkan secara visual,” jelas ibu Malik Arifin Siregar dan Akma Shahira Siregar ini.
Tentang ide ceritanya, Moza mengaku sangat mengagumi Atilah yang menulis naskah sekaligus menyutradarai sendratari tersebut. “Ia bisa mengembangkan konsep tentang Rubiyah, seorang gadis desa dipersunting Raden Mas Said, yang mampu meletakkan kaum perempuan sederajat dengan kaum laki-laki. Ia juga yang mengumpulkan naskah-naskah yang ditulis oleh Rubiyah
yang kemudian dikenal sebagai BRAy Kusuma Matah Ati tentang suaminya,” cerita perempuan penyuka traveling, membaca, dan menonton fi lm ini.
Tiket gratisan
Satu hal yang membuat Moza geram ialah kebiasaan orang Indonesia yang gemar menonton konser selebritas asing, meski harus membayar tiket dengan harga mahal. “Orang mau diajak nonton Matah Ati yang notabene pertunjukan budaya, tetapi itu saja minta tiket gratisan. Padahal mereka tidak ragu-ragu untuk membeli tiket pertunjukan musik dari luar negeri yang harganya jauh lebih mahal,” kata dia.
Selama ini, menurut Moza, orang Indonesia terlalu mengagung-agungkan bangsa lain, dan lupa akan budaya sendiri. “Pendeknya orang Indonesia suka mengagung-agungkan budaya bangsa lain yang tidak berbudaya. Bagaimana mau jadi manusia yang berbudaya kalau budayanya saja tidak mengerti?” tukasnya.
Melalui keterlibatannya dalam tim produksi sebuah pertunjukan budaya, Moza ingin mengedukasi dunia. “Di Las Vegas, tahun baru, banyak juga orang Indonesia. Mengapa orang-orang Indonesia suka banget buang duit di negara yang tidak berbudaya?
Jika mereka takut datang menyaksikan karena tidak mengerti, ya, ayo nonton sama aku, aku terangin bagian mana yang nggak ngerti,” semangatnya.
Moza Pramita, yang keturunan Solo dan Palembang, juga mengajak orang-orang Indonesia untuk melakukan suatu langkah nyata untuk mencintai kesenian dan produk-produk
budaya. “Jangan ketika batik diklaim negara tetangga, kita baru marah. Nyatanya selama ini apa yang diperbuat? Toh juga tidak melakukan apa-apa.” (M-3) —
artikel ini 100 persen dikutip dari Rubrik Sosok, Media Indonesia, SENIN 9 Mei 2011 halaman 11 .
follow me on twitter : @retnohemawati