STEVE Jobs, pendiri Apple Computer mengungkapkan betapa beruntungnya ia didepak dari Homestead High School di California dan kemudian pindah ke Reed Colege di Portland Oregon. Di antara sekian banyak hal yang ia pelajari, ia juga belajar menulis kaligrafi. “Jika saya tidak dikeluarkan dari tempat belajar saya, mungkin Mac saat ini tidak akan memiliki typefaces atau font-font yang proporsional,” ungkapnya.
Sebuah negeri yang menciptakan dan mengenal huruf lebih awal, mendukung kemajuan dan berkembangnya ilmu pengetahuan. Tidak ketinggalan, huruf itu sendiri kemudian juga berkembang menjadi sebuah seni menulis secara khusus yang dinamakan kaligrafi. Kaligrafi dikenal dalam bahasa Yunani kallos yang berarti keindahan dan graphein yang berarti menulis.
Seorang pakar kaligrafi Syaikh Syamsuddin al-Akfani mengatakan bahwa kaligrafi merupakan ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal. Ilmu ini juga mengilhami tata cara merangkai dan cara menulisnya. Seorang kaligrafer dengan selera dan kemampuan seni yang tinggi akan mampu menciptakan sebuah tulisan yang tersusun sekaligus menggubah ejaan.
Banyak bangsa yang menciptakan dan mengenal huruf kemudian secara pararel juga melahirkan kaligrafi dengan gaya atau aliran yang khas. Mesir juga mengenal kesenian indah ini sejak lama dengan menulis indah huruf hierogliph, Assiria dengan fonogram (tulisan paku), India dengan devanagari, Jepang dengan huruf hiragana, katakana dan kanji sementara Indian dengan azteka.
Sementara Bangsa Arab meski dikenal keindahan kaligrafinya, ternyata merupakan salah satu negara yang terlambat mengenal aksara dibandingkan dengan negara yang lain. Salah satu alasannya adalah karena kebiasaan bangsa Arab yang sering berpindah tempat. Namun justru dengan kebiasaannya yang nomaden, kelak Spanyol dan Afrika mengenal gaya kaligrafi dari Bangsa Arab.
Alat untuk menuliskan kaligrafi bisa bermacam-macam termasuk kuas, pensil dan pena. Namun yang paling sering digunakan oleh kaligrafer handal adalah kayu handam. “Kayu ini berasal dari tumbuhan sejenis pakis yang tumbuh di hutan. Kayu ini mampu membuat tulisan menjadi jauh sangat halus,” ujar Khairunnisa Affandi, seorang kaligrafer muda perempuan yang tinggal di Jakarta.
Banyak pilihan media yang sering digunakan untuk menorehkan kaligrafi di antaranya adalah kertas, kanvas, dinding, keramik, kain, gerabah, vinyl dan juga kaca.
Arab — Kaligrafi Arab menduduki posisi yang sangat menentukan dalam dunia Islam. Ia menjadi miniatur, identitas dan simbol bagi realitas seni budaya Islam yang mudah ditemukan sepanjang wilayah dunia Islam mulai dari Arab, Spanyol dan Pakistan hingga kini,” ucap Ilham Khoiri R, penulis buku Al-qur’an dan Kaligrafi Arab.
Kaligrafi Arab seturut dengan cara penulisannya, dibagi dalam beberapa gaya yaitu : tsuluts, naskh, farisi, riq i, diwani, shikasteh, kufi.
Jepang — Kaligrafi Jepang dengan huruf kanji yang disebut shodo mempunyai 4 syarat utama, tebal tipis torehan tintanya, pusat penulisan, keseimbangan dan juga irama. Kita sering melihat karya-karya kaligrafi Jepang ditulis dengan cara tidak terputus. Ada tiga jenis shodo yaitu kaisho yang berarti kaligrafi harus rapi atau bagus, tidak boleh ada sambungan, tekanan, dan tenaganya harus jelas tanpa patah. Jenis yang kedua adalah gyosho, yang berarti boleh sambung dan terakhir adalah shosho, yaitu kaligrafi yang cara penulisannya abstrak.
Kaligrafi Jepang menggunakan lima alat yang utama untuk melukis kaligrafi yaitu kuas (fudee), tinta cair, kertas (han shi), pemberat kertas, dan tilam (shitajiki). Tinta ini biasa juga disebut sumi yang terbuat dari cairan arang.
China — Kaligrafi China atau Shufa yang dimulai dari sebelah kiri penulisannya adalah salah satu seni kaligrafi tertua di dalam sejarah peradaban manusia. Selama ribuan tahun pula berbagai kebajikan dan pemikiran filsuf ternama macam Lao Tze hingga Konfusius terwarisi di dalamnya. Sebelum mengenal kertas, Bangsa China awalnya memahat kaligrafi di atas batu, tulang-tulang, atau bambu. Hingga Shufa mulai dikenal hingga kini, ia selalu membentuk puisi, pantun, kata-kata mutiara, atau pepatah.
India — Biasanya, penulisan setiap negara mempunyai kekhasan masing-masing yang disesuaikan dengan budaya negara setempat. Seperti, gaya penulisan di India dan Afganistan yang berkembang dengan kaliografi bernuansa tradisional dan disebut dengan gaya penulisan Behari. Gaya Behari muncul di India pada abad ke-14 yang bergaris horisontal tebal memanjang yang kontras dengan garis vertikalnya yang ramping.
Tembaga adalah material favorit untuk prasati India termasuk untuk Behari. Kemudian di India Utara dikenal juga penulisan di permukaan kulit pohon, daun kelapa dan setelah itu mereka mulai mengenal kertas kemudian beralih.
Persia — Membicarakan kaligrafi, tidak akan bisa terlepas dari Persia. Persia, mengembangkan kaligrafi dari huruf paku yang mereka gunakan. Naskah-naskah Persia kuno mulai diciptakan pada 500-600 SM untuk dijadikan prasasti bagi raja-raja Achaemenid.
Beberapa abad kemudian datang skrip lain seperti Pahlavits dan Avestaee yang biasa dituliskan di kulit binatang dengan menggunakan pena bulu. Anehnya skrip ini memiliki banyak kesamaan dengankaligrafi Arab yang diciptakan beberapa tahun kemuadian.
Setelah penyebaran Islam pada abad ke 7, Persia mengadopsi huruf Arab untuk berkomunikasi dalam bahasa Persia. Alfabet Persia kontemporer menambahkan 4 karakter tambahan dari huruf Arab sehingga menjadi 32 huruf.
Di Persia dikembangkan banyak gaya farisi. Gaya ini berkembang di Timur Tengah dengan ciri tarikan huruf seperti sayab burung yang sedang terbang, panjang dan meliuk.
Kaligrafi dan lini lain — Gresik, Jawa Timur merupakan kota yang sangat bersejarah dalam perkembangan kaligrafi di Indonesia. Di kota inilah kaligrafi pertama kali ditemukan, yaitu pada makam Fatimah binti Maimun yang meninggal pada 1028 Masehi. Kaligarfi Arab yang ditemukan menggunakan Khat Kufi. Dari titik inilah kemudian kaligrafi berkembang mengikuti perkembangan Islam di Indonesia hingga saat ini.
Bengkulu yang mengenal Besurek dari suku Rejang Lebong juga memberikan sentuhan kaligrafi Arab selain juga gambar bunga raflesia. Dalam tradisi kuno Rejang Lebong, kain ini digunakan untuk pakaian adat, tutup kepala hingga kain penutup keranda jenazah.
Baru-baru ini dalam Festival Musim Semi di Kota Chaohu Provinsi Anhui, China diadakan fashion show dengan mengenakan kreasi yangterbuat dari kaligrafi China. Festival ini diadakan untuk menandai pergantian tahun kelinci yang merupakan salah satu dari dua belas binatang zodiak China.
Xinhua.net pernah melaporkan, pada akhir tahun 2010 kaligrafi yang dituliskan pada selembar kain sutta dari China yang hanya berisi 41 karakter laku dijual seharya 308 juta yuan atau sekitar Rp41 miliar. Yang menjadikannya istimewa adalah naskah sepanjang empat baris dalam media berukuran 24,5 x 13,8 ini merupakan karya Wang Xizhi. Ia adalah seorang seniman dari Dinasti Jin yang dijuluki Sage of Calligraphy alias guru kaligrafi.
Pada Ka’bah kita sering melihat adanya Kiswah yaitu kain penutup Ka’bah. Kain kiswah memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri. Pintalan-pintalan benang berwarna emas maupun perak bersatu-padu merangkai goresan kalam yang berisi firman-firman Allah. Kiswah dipintal menggunakan benang berwarna emas dan perak pada permukaannya dengan kaligrafi. Inilah yang membuat kiswah memiliki nilai seni yang luar biasa. Kiswah merupakan simbol kekuatan, kesederhanaan, juga keagungan.
Karya kaligrafi terkenal
Ingatkah Anda akan sebuah karya kaligrafi yang kontroversial di Indonesia berkenaan dengan pertunjukan grup musik Dewa? Kaligrafi yang kemudian menjadi lebih terkenal ini pada hakekatnya adalah susunan kufi sederhana namun indah dalam lafal Jalalah Allah yang diulang delapan kali dengan bidang bersudut delapan.
Kaligrafi ayat kursi juga merupakan karya yang paling jamak dijumpai di rumah-rumah pemeluk agama Islam. Ayat Singgasana ini merupakan ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah yang merupakan ayat paling agung dalam Al Quran. Ayat ini mengumandangkan tentang keesaan dan kekuasaan Tuhan yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikitpun dalam memeliharanya.
Karya kaligrafi China karya Wang Duo yang lahir di Mengjin, Provinsi Henan merupakan karya kaligrafi yang terkenal karena memperkenalkan pentingnya mengekspresikan emosi dalam karyanya. Ia kemudian memperkenalkan Calligraphy in Cursive Script yang ditulis di atas selembar kain sutera.
Pelukis kaligrafi di beberapa negara Islam lain seperti Naja al-Mahdawi (Tunisia), Ali Omar Ernes (Libya), Dhiya al-Azawi, Hasan Masoudi (Iraq), Mohammed Ehsani (Iran), Rashid Butt (Pakistan), Hamidah Wye, Maha Mohammad Abduh al-Maie (Arab Saudi) mulai dikenal dengan karya-karyanya yang lari dari kaidah baku tradisi Islam.
Sementara itu di Indonesia, beberapa kaligafrer juga bermunculan dan dikenal oleh masyarakat, mereka adalah A.D Pirous, Amri Yahya, Abay D. Subarna, Syaiful Adnan dan Khairunnisa Affandi. “Di Indonesia, kecenderungan orang membeli karya kaligrafi Arab yang pertama kali dilihat adalah tampilan estetikanya, memang mereka tidak selalu paham. Baru setelah itu mereka menanyakan kepada kaligrafer, ini ayat apa, dan artinya bagaimana. Adapula yang kemudian berpesan untuk membuatkan karya tertentu dengan ayat favorit mereka, itu bisa saja,” ujar Khairunnisa Affandi yang karya yang melafal Jalalah Allah turut laku terjual bersamaan dengan peristiwa kontroversial Dewa.
Selalu berkembang — Seni kaligrafi bagaikan pintu yang selalu terbuka untuk ruang baru berekspresi dan melahirkan gaya-gaya baru. Seni khat atau kaligrafi yang ditorehkan tidak kunjung sempurna. Gagasan untuk menorehkan kuas dan hamdan tidak akan pernah habis. Itulah mengapa, pelukis Tunisia Naja al-Mahdawi mengibaratkan bahwa seorang kaligrafer yang berada di depan kanvas bagaikan di tengah-tengah padang yang tidak bertepi.
Note : Ini adalah tulisan super mentah sebelum diedit dan dipublikasikan untuk in house magazine ANZ, First Priority dalam rubrik ArtPloration