MacyGray part deux

Merc--

Ya aku berutang cerita tentang MacyGray.
Singkatnya..
Sebelum perjalanan ke Nepal, MacyGray yang aku impikan akhirnya dijual oleh si pemilik.
Itu sangat menyebalkan sebenernya, karena kondisi itu, aku nggak punya cukup uang.
Tapi, aku merasa harus memilikinya.
Meski maksa.
Dan akhirnya bisa, MacyGray di tangan.
Jalannya mulus aja.
Bantuan datang dari orang-orang terdekat.
Dan you know what?
Delapan bulan berlalu,
Aku masih belum bisa nyetir sampai sekarang,
cuma bisa parkir.
Kalau kata bahasaku masa kini.
Bangke banget-lah, MacyGray ada. Tapi tetep aja kehujanan.
Haha

Pindah kubikel

Pernahkah kamu gamang ketika keinginanmu akhirnya terwujud? Tiba-tiba merasa bahwa kemampuanmu lenyap. Galau menghadapi masa-masa ke depan? Merasa harus meraba-raba ketidakpastian?

Ya saya sering mengalaminya. Besok, saya pun akan pindah ke kubikel baru, yang artinya adalah pindah desk baru. Meski nggak sepenuhnya baru, tapi saya harus mempelajari banyak hal-hal yang masih asing.

Maka hati-hatilah dengan keinginan,
Rancang sebaik mungkin,
supaya datangnya tepat waktu seperti saat kita menginginkan.
Mimpi yang menjadi kenyataan,
kadang menjadi mimpi yang tidak diharapkan.
Jika waktunya tidak tepat.

fashion blog for professional women new york city street style work wear

MacyGray. Thank God

MacyGray

Cerita panjangnya lain kali ya, intinya.. Thank God for this Macy Gray.. i love and like it!

Butet Manurung: Ramon Magsaysay adalah Suluh yang Harus Terus Menyala

Butet Manurung

BUTET Manurung, 42, pegiat Sokola Rimba meraih penghargaan prestisius Ramon Magsaysay yang sering disebut sebagai Nobel versi Asia. Penghargaan ini telah rutin diberikan sejak tahun 1959 oleh sebuah lembaga nirlaba Ramon Magsaysay Award Foundation (RMAF) yang berpusat di Manila, Filipina.
Menerima penghargaan itu, perempuan yang kini tengah menikmati masa 31 minggu kehamilannya justru merasa terbebani. “Buatku, menerima penghargaan ini bagaikan suluh, merasa terhormat tapi juga terbebani, suluh ini harus menyala terus, menginpirasi dan menggugah banyak orang. Intinya setiap penghargaan yang aku terima, itu artinya adalah tanggung jawab yang bertambah,” kata dia.
Perempuan dengan nama lengkap Saur Marlina Manurung ini kemudian menuturkan bahwa pihak RMAF telah menghubunginya sejak awal Juni 2014. “Tapi pada saat itu, saya belum boleh memberitahukan kepada siapapun, sebelum secara resmi mereka mempublikasikan,” tuturnya yang akan merima penghargaan pada 31 Agutus mendatang.
Selain Butet, ada empat orang seperti Hu Shuli dari Tiongkok, Omara Khan Masoudi dari Afghanistan, Wang Canfa dari Tiongkok, Randy Halasan dari Filipina, dan satu organisasi The Citizens Foundation dari Pakistan yang akan menerima penghargaan serupa. “Untuk kategorinya aku juga belum tahu, tapi bisa jadi Emergent Leadership atau uncategorized,” kata Butet.
Meski demikian RMAF menyebutnya sebagai seseorang yang diakui meningkatkan taraf kehidupan orang-orang yang mendiami hutan di Indonesia. Dia melalui organisasi yang didirikannya Sokola Rimba, telah 11 tahun beradaptasi dengan suku-suku pedalaman di penjuru Indonesia. Setidaknya, 10 ribu orang di berbagai hutan telah diajar Sokola Rimba untuk membaca dan menulis. “Kalau dibilang saya pahlawan, justru terbalik, anak-anak rimba itu pahlawan, sahabat sejati buat aku. Kami saling melindungi, lapar sama-sama, mereka adalah guru kehidupanku. Bahkan setelah kami ada ‘sekolah’ di hutan yang lain, kawah candradimuka bagi Sokola Rimba adalah anggota suku Anak Dalam di hutan Bukit Duabelas, Jambi. Saya mencintai mereka dan saya ingin mereka happy,” terangnya.
Memimpin organisasi Sokola Rimba tidak serta merta membuat mimpinya menjadi besar. “Rencananya tetap seperti ini, nggak pernah ingin menjadi organisasi yang besar. Kami ingin banyak pihak mengopi apa yang kami lakukan karena masih ada 2 juta orang di banyak pedalaman. Kami 11 tahun baru 10 ribu, padahal kita ini kejar-kejaran dengan kerusakan alam, perubahan mental karena pasar, dan kesehatan. Itu tidak bisa hanya dibendung dengan pendidikan, pembangunan, sekolah dan agama. Namun harus ada yang mengenali mreka dengan cinta, tidak menganggap mereka objek, tapi harus disayangi dan dilihat adat istiadatnya. Ilmu hanyalah senjata tambahan untuk mengatasi masalah-masalah mereka,” jelasnya.
Untuk menghindari malaria, Butet kini lebih banyak di belakang meja. “
“Tapi kalau punya komitmen tugas 24 jam kali berapa hari ya harus terus,” kata dia. Butet juga mengatakan bahwa memimpin Sokola Rimba tidak bisa menerapkan ilmu yang didapatnya dari belajar leadership hingga ke Universitas Harvard, Amerika. “Lima orang pendiri Sokola Rimba itu merupakan keluargaku. Kami sudah mengenal masing-masing. Memimpin itu harus mencontohkan, bukan menyuruh-nyuruh tapi mendelegasikan,” tutup Butet.

 

— Mewawancarai Kak Butet, meskipun baru berkesempatan melalui telepon, saya bisa mendengar dan merasakan keramahan dan kerendahatiannya.  Tentu saja saya mengambil kesempatan pertama dan tidak ingin memberikan pada orang lain untuk wawancara karena memang sudah lama sekali ingin berbincang dengannya. Melalui Mbak Indit (Sokola), kami akhirnya terkoneksi. Dan begitulah hasilnya.. Terbit di Media Indonesia, Sabtu 2 Agustus 2014 dalam versi edit.

 

Misteri Popok Agnes Mo!

Video klip Coke Bottle yang dinyanyikan Agnes Monica telah beredar, dan sejak 1 April kemunculannya di MTV, video ini berhasil menjadi perbincangan, termasuk celana balon yang dikenakannya. Celana balon yang dikenakan dirinya disebut-sebut sebagai popok, padahal nama sebenarnya adalah short bloomer pants.

Celana ini dalam sejarahnya berasal dari nama Amelia Bloomer Jenks. Amelia adalah seorang pejuang hak-hak perempuan Amerika sekaligus seorang pengacara yang hidup pada kurun waktu 1818 hingga 1894.

Setelah menghadiri Konvensi Seneca Falls, sebuah pertemuan paling berpengaruh yang membahas tentang hak-hak perempuan di Amerika tahun 1848, dirinya mulai membuat surat kabar sederhana The Lily. Dalam surat kabar dua mingguan ini dia mempromosikan perubahan standar pakaian untuk perempuan yang sedikit longgar daripada gaun-gaun victorian yang di kala itu sangat ngetren. Untuk mengenakan gaun victorian, perempuan pada umumnya meski mengenakan korset dan bebat tubuh sehingga tubuhnya terlihat indah dalam pandangan saat itu.

Pakaian standar yang kemudian diusulkannya adalah short bloomer pants yang difungsikan sebagai pakaian dalam sebelum mengenakan gaun victorian yang panjangnya hanya selutut. Manfaat dan tujuannya adalah agar perempuan mudah bergerak serta tidak mengesampingkan alasan kesehatan, kenyamanan, dan kegunaannya.

Pada masa itu pula, secara politis mengenakan celana ini ditentang oleh para ulama ortodoks dan kritikus yang mencela bahwa perubahan ini menjadi tanda adanya perampasan otoritas laki-laki.

Gambar

Selamat Ulang Tahun, Mantan!

42 menit berlalu dari 00.00 WIB, iseng membuka Facebook dan melongok siapa saja yang berulang tahun di tanggal ini. Salah seorang adalah mantan. Ya, kami berteman di Facebook.

Mantan yang baik, mantan yang tidak pernah mengganggu kehidupan saya di masa-masa setelah menjadi mantan. Saya pun demikian. Bertahun-tahun kami tidak pernah berjumpa, bahkan ketika hanya terpisah beberapa kilometer di Kota Solo.

Ini lucu, dia bahkan bekerja di perusahaan lain yang dimiliki oleh pemilik perusahaan di mana saya bekerja saat itu. Meski hanya 9 bulan di Solo, bisa jadi itu jadi waktu lama atau sebentar, tapi ya dasar memang tidak berjodoh kami tidak pernah bertaut karena ketidaktahuan.

Mungkin dua tahun kemudian, kami akhirnya bertemu melalui Facebook dan berbincang-bincang. Terakhir, saya memberinya selamat karena akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan impiannya sebagai PNS. Kami masih berbincang sementara cakap yang tidak terlalu penting.

Kabar duka datang, dia meninggal karena kecelakaan, tepat sehari setelah Bapak saya meninggal. –Bapak meninggal Kamis, 10 November 2011.– Duh!

Saya tidak pernah meragukan Tuhan.. Di adalah perancang hidup saya, Dia maha mengetahui, di mana saya tidak akan bisa melewati terjalnya cobaan jika Tuhan memberikan dia sebagai jodoh saya.. meskipun mungkin saja akan terangkai kisah yang lain, namun saat itu, saat ini, beginilah adanya..

Meski demikian, saya berdoa untuk isterinya, yang melahirkan anak pada 13 Mei 2012, hampir mirip pula dengan tanggal kelahiran saya. Dia akan menjadi isteri yang sangat kuat karena dia telah naik kelas.

TK, selamat ulang tahun di surga!

Gambar

Menimbun sepatu..

Hal-hal yang lucu seringkali terjadi pada saya. Kali ini adalah sepatu. Begini kisahnya, khusus untuk sepatu, saya sangat setia pada satu pilihan. Nggak heran ketika kemudian saya mencari sepatu yang itu-itu juga ketika sepatu saya sudah mulai terlihat butut..

Padahal sepatu saya, meski tidak banyak, masih ada beberapa lagi. Kadang kasihan juga jika terlalu lama nganggur, sebab menurut ahli persepatuan yang pernah saya wawancarai; sepatu yang sering dipakai, durasi kerusakannya akan lebih lama dibandingkan dengan yang pernah dipakai kemudian ‘cuti’, alasannya, sepatu itu juga perlu adaptasi dan dimampatkan dengan bobot tubuh kita. Itulah mengapa, sepatu yang sudah lama tidak dipakai kemudian bisa hancur kemudian, apalagi di bagian sol.

Oke kembali ke sepatu-sepatu saya,
Dulu, saya sehari-hari hanya mengenakan sepatu bermerk Skechers, tanpa tali dengan warna dominan abu-abu dan list warna bersemu pink. Sebenarnya sedikit dekil-pun warna pink itu juga tidak akan terlalu terlihat dan membuat saya kemudian menjadi kecewek-cewekan, walaupun saya perempuan.

Beli sekali, dipakai 2 tahun, rusak, beli lagi dengan warna, ukuran, model yang sama, kemudian berangsur rusak lagi.. sialnya, ketika saya mencarinya lagi, model itu sudah raib. Kata mbak-mbak penjaga toko, “Sudah nggak keluar lagi modelnya.”

Yeah, padahal saya sudah terlanjur suka. Perjalanan saya kemudian berakhir kepada Reebok, dengan harga beli ya 11-12, mungkin di beberapa toko bahkan sama. Punya sekali, rusak, beli lagi masih ada.. nggak ingin ketinggalan, saya beli lebih dari 3 pasang, dengan model yang sama, dan satu model variasi. Satu model pas saat hujan, satu model pas untuk menemani saya di kala berjemur di teriknya Jakarta.

Beruntung, kali di ini di toko sport station Kemang, mas-mas di situ bilang kalau model yang saya pakai ini sudah tidak diproduksi lagi dan hanya tinggal menghabiskan stok. Saya rela tuh merogoh kocek saya kala itu untuk membeli sepatu tiga biji sekaligus dengan model dan ukuran yang sama. Warnanya boleh beda dong!

Sayangnya, ternyata sepatu ini dalah sepatu sejuta umat. Banyaaaaak pemakainya, ternyata selera saya adalah selera pasar! Uwooooowwww! Ah tidak mengapa juga kan? Toh belinya sendiri-sendiri.. *ngeles

Akhirnya, saya pikir, saya tidak perlu lagi membeli sepatu baru untuk jangka waktu yang lama. Lumayan kan?

Gambar