Tag Archives: ananda sukarlan

Ananda Sukarlan: Pemusik Sastra Bukan Entertainer

Ananda Sukarlan, pianis sekaligus komponis handal yang dua pekan lalu menggelar konser Jakarta New Year Concert – Libertas di Taman Ismail Marzuki tak hanya lincah ‘menarikan’ jemarinya di atas tut piano Steinway & Sons buatan Jerman. Ia juga mempunyai kepedulian yang luar biasa dengan perkembangan musik tanah air.

Untuk alasan itulah, Ananda Sukarlan itu lebih akrab dengan panggilan Andy ini mempunyai  jadual khusus datang ke Indonesia. Salah satunya adalah awal tahun. Selain untuk konser, ia juga memberikan perhatiannya pada Yayasan Musik Sastra Indonesia yang didirikan bersama dengan Chendra E Panatan, Pia Alisjahbana, Dedy Panigoro dan juga sekolah musik Jakarta Conservatory of Music yang berada di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.

Saat ini Andy sedang mempersiapkan Rhapsodia Nusantara. Sebuah karya serial yang berisi lagu-lagu tradisi Indonesia seperti Kicir-kicir, Jali-jali, Angin Mamiri hingga Rasa Sayang-sayange. Apa yang ia lakukan ini terinspirasi oleh Franz Liszt, seorang komponis Hongaria yang mampu melahirkan Hungarian Rhapsody. Beberapa repertoar dalam dalam seri tersebut, bahkan dikenal di dunia secara tidak sengaja melalui beberapa film yang kebanyakan katun, sebut saja: Bugs Bunny, Woody Woodpecker dan juga Tom and Jerry.

Ia sadar bahwa musik klasik tidak bisa sepopuler lagu-lagu pop. Pembuatannya yang memakan waktu lama membuat jenis musik yang kemudian disebut Andy sebagai musik sastra ini tidak ramah pasar. “Musik sastra itu memiliki struktur, melodi, harmoni dan masih banyak unsur lain yang tidak dipunyai oleh musik pop sehingga membutuhkan waktu lama untuk produksi, dan tidak easy listening,” ujarnya.

Musik klasik atau musik sastra sebenarnya menurut Andy hanya terminologi yang dimaksudkan untuk pembaruan. Bukan karya yang baru namun lebih pada kesan yang ingin diciptakan. “Kesan klasik itu sangat seram menurut saya, karena biasanya musik lama yang komponisnya bahkan sudah meninggal. Ini hanyalah sebutan lain saja kok, pada prinsipnya masih tetap sama. Mempunyai pesan-pesan yang tersembunyi sama seperti karya-karya sastra lain yang tertulis, musik sastra inipun tertulis, musik pop kan tidak,” ujarnya.

Ia bercerita, bahwa musik sastra sangat sulit mendapatkan tempat di hati penikmatnya dan memang tidak market oriented. Jikapun ada, Andy sadar betul itupun hanya kalangan yang terbatas dan selebihnya adalah orang-prang snobbish yang sesungguhnya tidak paham dengan musik ini. “Musik sastra adalah musik yang menurut saya sangat jujur. Musik yang justru memberikan banyak hal yang tidak ingin penonton dengar. Sangat konseptual, seperti Libertas yang ingin bercerita tentang pelanggaran hak-hak asasi manusia. Itulah, mengapa komponis sastra tidak bisa disebut sebagai entertainer.” Ia merasakan bahwa musik mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan semua orang namun tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang harus dimengerti dan dipahami.

Saat dijumpai di Hampton’s Park awal pekan lalu, ia bercerita bahwa ia sedang bersiap untuk pentas di Makassar dan kemudian akan langsung ke perbukitan Cantabria, Spanyol menemui anaknya Alicia Pierna Sukarlan  dan isterinya Raquel Gomez yang tinggal di sana.

Pada kesempatannya datang ke Indonesia kali ini, ia juga mempersiapkan Ananda Sukarlan Award yang diselenggarakan dua tahun sekali. Tahun ini, kompetisi yang bermaksud untuk menemukan bibit-bibit pianis handal akan diselenggarakan pada 20-25 Juli 2010. “Ini adalah kompetisi piano nasional yang biasanya diikuti oleh 50 orang pemusik. Mereka akan membawakan karya beragam sebagai karya wajib seperti karya Beethoven, Mozart termasuk Franz Liszt,” cerita Andy.

Ia sangat prihatin dengan perkembangan musik sastra di Indonesia. Ia berpendapat bahwa kesempatan menjadi pemusik di Indonesia hanya bisa didapatkan oleh anak-anak orang kaya. Kebanyakan orang yang hidupnya hanya pas-pas-an tidak akan mampu membeli instrumen yang harganya sangat mahal.

Selain alasan daya beli instrumen, pendidikan seni sangat mahal di Indonesia. Ia berharap bahwa pendidikan seni bisa masuk dimasukkan dalam kurikulum sekolah dan berharap pemerintah berkenan mendukung dengan mengalokasikan anggaran untuk menyediakan pelatihan bagi guru-guru yang ditugaskan untuk ‘mengasuh’ kurikulum kesenian, tidak hanya musik.

Pemerintah mempunyai peran yang besar dalam mengembangkan seni menjadi identitas sebuah negara. Ia bercerita bahwa banyak pemusik berbakat Indonesia justru mendapatkan kesempatan untuk belajar musik di berbagai negara di Benua Eropa. “Kementerian kebudayaan di negara-negara Eropa seperti Belanda dan Jerman sangat mendukung tumbuhnya pemusik-pemusik baru melalui beasiswa yang bahkan ditawarkan terbuka hingga lintas benua. Selain itu gedung opera, konservatorum dan gedung konser semua tersedia,” ungkapnya.

Ia juga berharap banyak, bahwa orangtua yang ingin anaknya belajar musik tidak menghendaki proses yang instan. ‘Bakat, kemampuan dan kerja keras adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan untuk menguasai sebuah repertoar musik sastra, seseorang itu perlu waktu sebulan atau bahkan lebih. Tetapi inilah fenomena yang terjadi sekarang, orangtua ingin anaknya bisa memaikan piano misalnya hanya dalam waktu tiga bulan,” ceritanya.

Orgasmaya

Hasan Aspahani, merupakan sastrawan yang sangat ia kagumi. Kedekatan mereka terjembatani melalui buku kumpulan sajak Orgasmaya karya Hasan Aspahani. Sajak Bibirku Bersujud di Bibirmu oleh Hasan menjadi karya musik baru yang diciptakan oleh Andy dengan judul Bibirku. Ini adalah bentuk lain dari tafsir sajak melalui musik oleh Andy dan tari karya Chendra E Panatan saat pentas Libertas. Musiknya terdiri dari dua sesi pertama trio untuk piano, alto flute dan biola dan bagian kedua untuk soprano dan piano.

Karya Bibirku itu bukanlah karya satu-satunya yang terinspirasi dari sajak. Beberapa karyanya terilhami oleh puisi Dalam Sakit karya Sapardi Djoko Damono dan The Young Dead Soldiers – Archibald MacLeish.

Ada tarian yang muncul dalam karya Bibirku merupakan kolaborasi nan unik. Andy ternyata sangat mengagumi Chendra sebagai koreografer handal di Indonesia. “Kami sama-sama berproses dengan puisi yang sama dengan penyikapan yang berbeda. Saya “mendengar” musik dari puisi sementara Chendra “merasakan gerakan” dari musik saya.” (Retno Hemawati)

tulisan ini dikutip..di-copas juga oleh:     http://bataviase.co.id/node/69129