Tag Archives: matah ati

Inet Leimena, Bangga Wujudkan Mimpi Orang Lain

Ia tidak tampil di depan publik. Namun, di tangannya ada kesuksesan sebuah pertunjukan.

ADA satu peran kunci dalam pertunjukan. Peran itu sering kali tidak terlihat. Padahal, ia bertindak selaku perpanjangan tangan sutradara.

Selain berkoordinasi dengan aktor, peran itu bertanggung jawab atas persiapan dan pembangunan panggung, latihan, kualitas pertunjukan, dan pemindahan scenery.

Profesi itu ialah stage manager. Ia bekerja di bidang kreatif yang merealisasikan ide-ide konseptor yang luar biasa. Triana Wyarsih Leimena, 44, yang akrab dipanggil Inet Leimena, merupakan salah seorang stage manager perempuan terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Di usia 22 tahun, ia menjadi Kepala Divisi Produksi Gencar Semarak Perkasa (GSP) Production yang didirikan Guruh Soekarnoputra.

Lulusan Jurusan Perhotelan Akademi Pariwisata tahun 1989 itu awalnya bercita-cita menjadi polisi wanita. “Tapi karena seragamnya aneh zaman dulu, saya jadi enggan. Kalau di luar negeri, polisi wanitanya kan asyik tuh,” ceritanya saat dijumpai pada Lokakarya Stage Management yang diselenggarakan Yayasan Kelola dan Japan Foundation di Gedung Summitmas, kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.

Seni Pertunjukan
Kecintaannya pada seni pertunjukan tumbuh kala kakaknya, Lolita dan Yuria Leimena, berkecimpung di dunia seni. Lolita ialah istri Harvey Malaiholo. Ia dahulu penari yang tergabung dengan GSP. Adapun Yuria Leimena bekerja di event organizer Permata Hijau Selaras.

Kariernya tidak instan. Inet bahkan pernah bekerja sebagai penyobek tiket saat Permata Hijau Selaras mengadakan konser artis luar negeri di Indonesia. Selepas dari situ, ia menjadi penerima tamu atau usher dan koordinator usher. Sejak itulah ia merasakan asyiknya bekerja di belakang panggung.

Selain kedua kakaknya, pada 1987 Inet sering nongkrong di Studi 26 bersama Atiek Ganda dan Ari Syahri. Ia pun mendapatkan kesempatan kerja di bagian kostum. “Waktu itu penarinya masih Ari Tulang dan Rina Gunawan. Mereka kalau habis pentas main lempar kostum, saya yang mengumpulkan, sampai kemudian saya ikut Mas Ari Syahri dan ikut BASF Award, saya jadi kru dan ikut jalan-jalannya.”

Jalan-jalan dalam rangka BASF Award ternyata menjadi batu loncatan terbesar dalam hidupnya. Di Noga Hilton, Jenewa, Swiss, saat itu, niat jalan-jalan dan menyaksikan pertunjukan GSP akhirnya berubah menjadi pekerjaan. “Mas Ari saat itu manggil saya, seolah-olah saya kru panggungnya. Saya senang-senang aja. Bagaimana tidak, director-nya Guruh Soekarnoputra, jadi saya merelakan acara liburan saja ke Swiss dan akhirnya kerja. Saya enggak ada pikiran uang, pokoknya kerja dan ingin saja.”

Sepulang dari Swiss, Lufti–Director of GSP–menanyakan dia melalui Lolita untuk mengerjakan proyek Pasaraya. Proyek itu menampilkan pertunjukan kesenian Nusantara dari Sabang sampai Merauke serta gala dinner selama tiga bulan. Inet yang kala itu sebagai Kepala Produksi Divisi Pasaraya GSP melihat hal tersebut kurang menarik. “Tidak seperti sekarang, orang banyak yang suka dengan seniman dan pertunjukan kesenian tradisional,” jelasnya.

Sebelah mata
Menjalani profesi sebagai stage manager yang didominasi kaum Adam tidak membuatnya patah arang meski sering dipandang sebelah mata.

“Sejak saya kerja dengan Mas Guruh itu kesenjangan tidak ada. Saya juga diajari untuk selalu positive thinking, harus punya intonasi bicara supaya orang bisa didengar orang lain. Mas Guruh-lah yang membentuk saya dan kemudian menanamkan keyakinan pada saya bahwa kita mesti yakin yang kita kerjakan itu benar.”

Inet dan manajer panggung ialah jembatan antara sutradara dan aktor. “Kami juga berhak memberikan masukan sebagai stage manager karena kita sebenarnya masuk tim kreatif dan kita yang akan menjalankan pertunjukan dari awal hingga akhir.”

Peran manajer panggung itu juga membawanya pada pengalaman unik. Pada perayaan 10 tahun referendum Timor Leste, dirinya dan kru mengatur pertunjukan 12 distrik dalam satu panggung.

“Tapi mereka aneh melihat saya mengatur karena tidak biasa. Biasanya mereka muncul atau silam yang semaunya saja. Akhirnya, saya harus memahami mereka, mendalami jadi mereka, bahkan mendudukkan kru saya di atas panggung supaya bisa ngobrol dengan MC-nya dan sukses pertunjukan itu,” ujar Inet berseri-seri.

Arti sukses
Sebuah pertunjukan yang bagus serta tidak membuat bingung dan bosan menjadi sebuah kesuksesan di mata Inet. Itu seperti ketika ia menangani konser Harvey Malaiholo, 12 tahun lalu.

“Saya memproduseri sendiri pertunjukan Harvey di Hotel Mulia waktu itu. Saya juga akan menangani konser 35 tahun Harvey Berkarya pada 27 September mendatang di Jakarta Convention Center dan sudah mulai kerja sejak Februari.”

Meski kemampuannya sudah teruji, bahkan hingga ke kelas internasional, Inet terkadang harus menghadapi konseptor atau sutradara yang idenya sulit diterjemahkan.

“Contohnya adalah desainer Obin, saya kecebur, sebenarnya fashion show kan biasa saja. Tetapi Obin tidak pernah biasa. Tiba-tiba teatrikal, tiba-tiba panggungnya dua, dan pernah pakai convert belt. Nah, di situlah tantangan saya. Masak iya klien mau, saya tidak bisa?”

Di atas semua itu, Inet merasa sangat luar biasa dan bahagia bila orang yang menggunakan jasanya mengucapkan terima kasih ketika mimpi mereka terwujud. Pasalnya, guna mewujudkan mimpi itu, diperlukan proses dan pemahaman mimpi orang.

“Bisa mewujudkan mimpi orang itu prestasi sendiri dalam hati saya. Saya senang bisa mewujudkan mimpi-mimpi Obin, Atillah Soeryadjaya, Guruh Soekarnoputra. Kebanggaan juga bagi saya bisa bekerja bersama dengan orang-orang hebat.”

——-

Antara Konser Musik, Fashion Show dan Seni Pertunjukan

Inet mengaku menangani konser musik, fashion show dan pertunjukan seni memiliki kerepotan yang sama. Ia mengatakan diukur dari waktu kerja yang paling memakan banyak waktu adalah teater, sebab harus koordinasi dengan sutradara dan juga pemeran yang banyak. “Pada prinsipnya sama saja, saya harus mendengarkan banyak pendapat dari sutradara, produser, art director, pemain, penyanyi, mereka maunya seperti apa. Seperti pertunjukan Matah Ati, pemainnya banyak, prosesnya lama. Tapi pada umumnya, kerja stage manager berkisar 2-3 bulan sebelum pertunjukan.”

Menurut Inet, kunci dari sukses sebagai seorang stage manager adalah pengertian, komunikasi dan menganggap orang yang bekerja bersama adalah saudara. Ia bercerita bagaimana ia selalu mengajak orang berdoa sebelum pertunjukan dimulai dan juga mengavaluasi pekerjaan orang lain sambil makan bersama usai pertunjukan. “Kesalahan bukan untuk divonis, mereka wajib tahu jika ada kesalahan tapi penyampaiannya yang baik,” ujar Inet yang mengidolakan Toto Arto dan Ari Syahri sebagai stage manager. Menurut Inet, keduanya adalah guru yang selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Inet yang kini berusia 44 tahun tersipu saat dikatakan dirinya layak disebut sebagai stage manager perempuan terbaik di Indonesia. “Sebenarnya masih banyak perempuan lain yang saya kenal namun mungkin orang lain sering melihat di konser musik, teater, fesyen jadi seolah saya ada di mana-mana. Sementara yang lain mungkin hanya di satu jenis pertunjukan saja. Bagi saya sih penting untuk berani mencoba, belajar dan mendengarkan orang lain.”

Sampai sekarang Inet lebih memilih untuk kerja sebagai freelancer. “Tapi saya juga mempunyai kantor-kantoran bersama dengan Toto Arto, senior saya. Kantor Et Cetera namanya. Di situ ada stage manager, lighting desainer, ticketing, lebih tepatnya seperti klinik, siapa perlu jasa profesional apa boleh diambil dari Et Cetera,” jelas penyuka Barbra Streisand dan Pavarotti ini.

Dalam setahun, perempuan penyuka gim atraktif di mal-mal ini biasa menangani banyak pertunjukan dalam kategori yang beragam. Ia menerangkan bahwa pertunjukan teater besar, setahun paling banyak hanya bisa 2 produksi sementara konser umumnya 3 bulan sekali dan masih ada show-show kecil yang membutuhkan jasa profesionalnya.

Sejauh mana prospek profesi stage manager atau sering juga disebut dengan show director ini ke depan? “Kalau untuk saya menjanjikan, apalagi sekarang orang dengan seni tradisi euforia dan awareness-nya gila-gilaan, konser juga banyak di Indonesia. Peluang memang ada, dari sisi penghasilan cukuplah untuk diri sendiri dan keluarga,” ucap Inet yang telah berkunjung ke 40 kota di berbagai negara ini merendah.

——————–

Data Inet Leimena

Nama: Triana Wyarsih Leimena

Tempat tanggal lahir : Jakarta, 29 Maret 1968

Hobi : Berenang, tenis

Riwayat pendidikan:

. 1986-1989 Akademi Pariwisata Trisakti

. 1986-1983 SMA Ora et Labora, Jakarta

————————-

Iklan

Menapaki Perjalanan Cinta dan Perjuangan Matah Ati

KURANG lebih seabad sebelum Raden Ajeng Kartini yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan dikenal perjuangannya pada akhir abad 18, di Desa Matah lahirlah seorang prajurit perempuan bernama Rubiyah pada abad 17. Ia angkat senjata bersama dengan prajurit putri untuk mendampingi perjuangan suaminya, Pangeran Samber Nyawa yang kelak dikenal dengan Raden Mas Said dan Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro I.
Desa Matah yang tandus dekat dengan Laroh atau Nglaroh ini letaknya di lereng Pegunungan Seribu, deretan gunung yang terbentang di sepanjang pantai selatan Yogyakarta, Wonogiri dan Tulungagung di Pulau Jawa. Di titik inilah Rubiyah berjuang melawan penjajahan kongsi dagang Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) Belanda yang rakus ingin menguasai nusantara hingga tegaknya pemerintahan Mangkunegaran.
Keberhasilannya memimpin perjuangan bersama 40 prajurit perempuan, mempunyai andil kemenangan Pangeran Samber Nyawa sehingga ia bertakhta menjadi Mangkunegara I dan dirinya bergelar BRAy Kusuma Matah Ati.
Kini keturunan mereka, cucu Mangkunegara VII, BRAy Atilah Soeryadjaya mengagas ide, mengonsep dan membuat naskah karya tari berjudul Matah Ati. Ia merupakan “orang dalam” Mangkunegaran dan mempunyai kepedulian untuk melanggengkan tradisi dan budaya Jawa. Alasan inilah yang menjadikan dirinya semakin tepat untuk mengejawantahkan harapannya dalam sebuah karya tari kolosal, tari langendriyan.
Sebuah konsep tari yang sulit karena mengharuskan penari selain luwes untuk melakukan gerak tari, juga harus punya kemampuan untuk nembang (menyanyi). Jenis tari langendriyan ini terlahir pada masa Raja Mangkunegara IV.
Apa arti Matah Ati bagi Atilah Soeryadjaya? “Nama beliau memiliki dua versi dengan arti yang sama yaitu Matah atau Patah yang dalam bahasa Jawa artinya melayani. Dalam hal ini, saya memilih judul Matah Ati dengan dasar pemikiran Rubiyah dilahirkan di Desa Matah. Selain itu juga dapat memberikan kesan yang lebih positif daripada Patah Ati yang dapat juga diartikan sebagai patah hati yang sesungguhnya sangat berbeda dengan makna sebenarnya, yaitu ‘melayani hati sang pangeran’ yang merupakan suaminya sendiri,” ujarnya di sela-sela acara Napak Tilas Matah Ati yang dilaksanakan di Solo, 28-30 Mei 2012.
Atilah Soeryadjaya tidak sendirian untuk mengumpulkan 170 pekerja seni profesional yang hampir seratus persen merupakan penari dan pengrawit Solo. Ia memilih tiga koreografer kenamaan seperti Daryono Darmorejono, Eko Supendi dan Nuryanto yang juga mengajar tari di Institut Seni Indonesia, Surakarta untuk bergabung dalam produksi Matah Ati.
Di antara para penari juga terseleksi Fajar Satriadi yang memerankan Pangeran Samber Nyawa  dan Rambat Yulianingsih yang memerankan Rubiyah sebagai penari utama. Tidak lupa Atilah Soeryadjaya mengajak serta Blacius Subono seorang dalang, pengrawit sekaligus komposer untuk mengarap sisi musikalitas pertunjukan ini. Blacius Subono membawa serta ‘gerbong’ musikus gamelan yang berjumlah 31 orang termasuk sinden. Masih kurang, khusus untuk pertunjukan Matah Ati di Solo, tim produksi menambahkan 70 orang lagi untuk figuran.
“Karya tari ini sangat dinamis, dibangun dari beberapa elemen suara yang dilakukan oleh pesinden maupun pengrawit yang saling melengkapi. Vokal penari tunggal juga akan terdengar sangat puitis. Saya berharap pertunjukan tari ini menjadi sebuah opera yang sangat ekspresif,” ujar Atilah.
Federation for Asian Cultural Promotion
Matah Ati ini pertamakali dipentaskan di Esplanade, Singapura 22- 23 Oktober 2010 dalam rangka Malay Festival of Arts dan pernah pula pentas di Taman Ismail Marzuki 13-16 Mei 2011. Pada tahun ini, Matah Ati akan pentas untuk kedua kalinya di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 22-25 Juni 2012 dengan durasi pertunjukan 130 menit yang dibagi dalam 8 babak dengan 17 adegan.
Yang tidak kalah istimewa, Matah Ati dijadwalkan ‘pulang kandang’ pada 8-10 September 2012 dan akan pentas di Halaman Istana Mangkunegaran, Solo. Pentas ini bertepatan dengan adanya Konferensi  Federation for Asian Cultural Promotion (FACP).  FACP merupakan wadah yang mempunyai misi untuk dapat membentuk jaringan, saling bertukar ide dan pandangan. Selain itu, ajang ini juga menjadi ajang diskusi mengenai industri seni dan hiburan di kawasan Asia Pasifik yang mana Indonesia telah absen selama 25 tahun dalam konferensi ini.
Yang sangat menarik, masyarakat Solo diundang untuk menyaksikan pertunjukan ini tanpa dipungut biaya. “Tetapi tetap akan ada mekanisme untuk mendapatkan undangan meskipun gratis, kami akan bekerjasama dengan pihak lain,” terang Atilah Soeryadjaya.Atilah Soeryadjaya  yang juga menjadi Ketua Penyelenggara sekaligus Gubernur Representatif dari Indonesia menyatakan bahwa acara ini telah mendapatkan dukungan dari pemerintah setempat. ”Ini membawa nama bangsa dan negara kita. Untuk itulah alangkah bahagianya saya ketika mendapatkan dukungan dan respon yang sangat baik dan terstruktur dari Walikota Solo, Joko Widodo dan dari jajaran Pemerintah Daerah Surakarta,” jelasnya akhir Maret lalu.

Kejutan Jay Subyakto
Jay Subyakto, sebagai penata artistik mempersiapkan kejutan-kejutan baru yang dijanjikannya akan spektakuler secara visual. “Saya berencana akan mengubah panggung berdimensi 26 x 31 meter dengan dua kali kemiringan dan berbahan dasar metal. Panggung ini akan dibangun outdoor dengan latar belakang bangunan bekas markas pasukan berkuda Artileri-Kavaleri Istana Mangkunegaran,” jelasnya. Panggung ini jelas akan berbeda dengan 3 pertunjukan sebelumnya.
“Tentu saja kami, para penari akan segera menyesuaikan dengan kontur dan juga luas panggung yang jauh lebih besar. Secara koreografi tidak akan berbeda, yang membedakan hanya secara formasi saja,” jelas Nuryanto, koreografer.
Jay berpadu dengan Inet Leimena sebagai penata panggung juga akan mempersiapkan kolam untuk adegan terjun di sungai. Dalam persiapan adegan berikutnya, kolam ini akan diisi dengan bahan bakar bensin untuk kemudian dinyalakan pada saat adegan peperangan antara Pangeran Samber Nyawa dan VOC. “Kolam ini tidak berisi bensin sepenuhnya, tapi tetap ada airnya, massa jenis yang berbeda antara air dan bensin telah diperhitungkan akan habis pada masa yang telah ditentukan sehingga akan aman, baik bagi pemain ataupun penonton,” jelas Jay.
Merawat dan merangkai warisan

Pertunjukan ini bisa diibaratkan sebagai sejarah yang dirangkai dalam kemasan yang apik. Panggung yang spektakuler, permainan pencahayaan dan komposisi yang pas, tata rias yang apik semakin sempurna dilengkapi dengan batik-batik koleksi peninggalan almarhum maestro batik Indonesia, Iwan Tirta. “Iwan Tirta adalah satu-satunya orang yang mendapatkan izin untuk melakukan revitaslisasi semua batik kuno koleksi Mangkunegaran,” jelas Atilah pada saat pertunjukan terdahulu. Ia menambahkan, batik kuno Mangkunegaran yang direvitalisasi oleh Iwan Tirta usianya bahkan ada yang hampir berusia 100 tahun. Atilah mengerjakan bagian lain seperti mendesain asesoris Jawa Kuno dan kostum pentas setelah sebelumnya melakukan riset kostum kuno abad 18.

Moza Pramita: Edukasi dengan Budaya

Kerinduan dan dahaga seperti apakah yang dialami Moza Pramita hingga sudi meleburkan diri dalam sebuah pertunjukan tari kolosal?

YA, Moza tidak akan tampil di atas pentas atau di layar kaca seperti ia membawakan beberapa program acara di stasiun televisi. “Saya menangani publikasi untuk pentas seni kolosal Matah Ati. Saya anak baru di dunia ini. Awalnya diajak,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 2 Februari 1976 ini dengan penuh semangat saat ditemui Jumat (6/5) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Siang itu, di kediaman Atilah Soeryadjaya– penulis naskah, produser, sekaligus sutradara serta penata kostum dalam pergelaran Matah Ati–Moza terlihat tengah sibuk berkoordinasi dengan beberapa orang dalam tim Matah Ati.

Termasuk sang sutradara, Atilah, dan Fajar Satriadi, asisten sutradara yang juga menjadi tokoh utama, Raden Mas Said. Pertunjukan itu akan digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 13-16 Mei 2011.

Moza terlibat dalam kesibukan mengatur jadwal untuk wawancara, siaran, korespondensi,dan publikasi lainnya. Menurut Moza, banyak kejadian di dalam proses produksi Matah Ati yang mengejutkan dan dirasakannya merupakan campur tangan Tuhan. “Semua seperti sudah ada jalannya, seperti bertemu dengan tokoh utama, Mas Fajar (Fajar Satriadi) yang sudah  menjadi asisten sutradara, tetapi kemudian seperti ditunjukkan bahwa beliau layak menjadi pemeran utama padahal kan sudah lama berproses dengan tim ini.” Moza juga merasakan banyak dukungan bekerja di dalam tim yang solid. Jatuh bangun, ganti sutradara, dan ganti pemain, itulah seleksi alam.

“Tapi kami akhirnya menemukan chemistry– nya, yang mengajak ‘ayo berangkat bersama, in the name of love’,” ujarnya. Moza telah bergabung dalam tim produksi pementasan Matah Ati beberapa bulan sebelum sendratari tersebut dipentaskan perdana di Singapura, pada Oktober 2010.

Ia yang saat itu turut serta ke ‘Negeri Singa’ mengaku sangat terharu menjadi saksi bahwa pertunjukan tradisi dan kontemporer itu justru diminati di luar negeri. “Penonton Indonesia tetap ada, tetapi itu tidak sebanding dengan penonton bule. Mereka juga tidak mengerti bahasa Jawa, tetapi dengan menyaksikan saja, mereka bisa terbawa dan bisa memahami, bahkan kami mendapatkan standing ovation selama pentas dua kali dalam dua hari,” tuturnya berkisah.

Kini Moza terlihat asyik menjalankan komitmen dalam dunia kesenian. Apa yang pernah dilakukannya di masa lalu adalah bekal dan ia merasa membutuhkan tantangan baru.

“Saya ingin punya banyak pengalaman, sesuatu yang baru, yang membuat saya terpacu untuk selalu belajar. Nah sebagai publicist di Matah Ati ini, tentu saja saya tertantang untuk menyampaikan konten-konten budaya Indonesia seperti opera Jawa ini yang tentu saja sangat berbeda dengan pertunjukan Broadway,” ujar mantan penyiar Hard Rock FM dan Cosmopolitan FM ini.

“Saya juga memberikan pertimbangan dan memutuskan, ketika berhadapan dengan media tertentu, siapa yang layak menjadi narasumbernya,” ia menambahkan.

 Lupa budaya sendiri

Mengusung pergelaran yang dibawakan dengan konsep langendriyan (menari sekaligus menyanyi dalam bahasa Jawa) mungkin menjadi tantangan sendiri buat Moza. Namun, ia tak terlalu khawatir pesan yang dibawakan dalam tarian dan bahasa Jawa itu tidak tersampaikan kepada penonton.

“Ini adalah pertunjukan yang sama seperti ketika kita menyaksikan teater atau pertunjukan di Eropa, yang kita enggak ngerti bahasanya. Tetapi lebih dari itu, dengan kita menyaksikan yang indah secara visual, memahami gesture, kita tentu akan paham dan bahkan bisa merasakan. Sama seperti Matah Ati, visualisasi yang digarap Jay Subyakto sebagai penata artistik tentu akan menyibukkan secara visual,” jelas ibu Malik Arifin Siregar dan Akma Shahira Siregar ini.

Tentang ide ceritanya, Moza mengaku sangat mengagumi Atilah yang menulis naskah sekaligus menyutradarai sendratari tersebut. “Ia bisa mengembangkan konsep tentang Rubiyah, seorang gadis desa dipersunting Raden Mas Said, yang mampu meletakkan kaum perempuan sederajat dengan kaum laki-laki. Ia juga yang mengumpulkan naskah-naskah yang ditulis oleh Rubiyah

yang kemudian dikenal sebagai BRAy Kusuma Matah Ati tentang suaminya,” cerita perempuan penyuka traveling, membaca, dan menonton fi lm ini.

Tiket gratisan

Satu hal yang membuat Moza geram ialah kebiasaan orang Indonesia yang gemar menonton konser selebritas asing, meski harus membayar tiket dengan harga mahal. “Orang mau diajak nonton Matah Ati yang notabene pertunjukan budaya, tetapi itu saja minta tiket gratisan. Padahal mereka tidak ragu-ragu untuk membeli tiket pertunjukan musik dari luar negeri yang harganya jauh lebih mahal,” kata dia.

Selama ini, menurut Moza, orang Indonesia terlalu mengagung-agungkan bangsa lain, dan lupa akan budaya sendiri. “Pendeknya orang Indonesia suka mengagung-agungkan budaya bangsa lain yang tidak berbudaya. Bagaimana mau jadi manusia yang berbudaya kalau budayanya saja tidak mengerti?” tukasnya.

Melalui keterlibatannya dalam tim produksi sebuah pertunjukan budaya, Moza ingin mengedukasi dunia. “Di Las Vegas, tahun baru, banyak juga orang Indonesia. Mengapa orang-orang Indonesia suka banget buang duit di negara yang tidak berbudaya?

Jika mereka takut datang menyaksikan karena tidak mengerti, ya, ayo nonton sama aku, aku terangin bagian mana yang nggak ngerti,” semangatnya.

Moza Pramita, yang keturunan Solo dan Palembang, juga mengajak orang-orang Indonesia untuk melakukan suatu langkah nyata untuk mencintai kesenian dan produk-produk

budaya. “Jangan ketika batik diklaim negara tetangga, kita baru marah. Nyatanya selama ini apa yang diperbuat? Toh juga tidak melakukan apa-apa.” (M-3) — 

artikel ini 100 persen dikutip dari Rubrik Sosok, Media Indonesia, SENIN 9 Mei 2011 halaman 11 .

follow me on twitter : @retnohemawati