Tag Archives: Robert Pattinson

Pattinson Tampik Si Congkak Simon Cowell dan Si Cantik Burberry

Setelah sepekan lalu aktor asal Inggris Robert Pattinson menolak tawaran produser musik kenamaan, Si Congkak Simon Cowell, kini ia menampik tawaran 20 miliar Si Cantik Burberry. Burberry ingin ia tampil sebagai representatif iklannya. Pendeknya, Burberry pinjam image sang vampir paling beken di dunia lakon Twilight ini untuk mengenakan tren mode terbarunya, difoto dan kemudian dipublikasikan di seluruh ‘kedai’-nya.

Kepala desainer brand fashion asal Inggris Christopher Bailey dikabarkan dikirim bersama tim Burberry untuk membujuknya. Tetapi menurut Sunday Mirror, tabloid Inggris yang dimiliki oleh Trinity Mirror memberitakan bahwa ia menolak dengan sangat santun dengan mengatakan bahwa dirinya adalah aktor. Demikian pula yang ia katakan tentang Simon, “Dia adalah orang yang pandai dan dia mampu membuat seseorang menjadi pemusik, tetapi saya rasa dia tidak pernah bisa memulai karir musik saya,” ucapnya.

Ia bukan seorang aktor yang mau saja menerima tawaran ini seperti aktris Emma Watson (Harry Potter). Watson telah mendahuluinya menjadi brand ambassador. Tetapi ia tetap teguh. Ia bahkan dikabarkan makin mantap menancapkan kariernya di dunia akting setelah menerima pernghargaan di ajang Stasbourg Internasional Film Festival.

Ini adalah poinnya, Pattinson sadar bahwa ia tidak cukup layak meskipun ia paham bahwa kini ia dikenal dan dilihat oleh mata dunia. Ia tidak mampu menjadi ‘sebuah wajah’ rumah mode yang didirikan oleh Thomas Burberry di Basingstoke, Hampshire, Inggris 154 tahun yang lalu.

Satu hal, Pattinson bukanlah seorang yang tamak, dan rakus dengan uang. Ia tidak memanfaatkan ketenarannya untuk mengeruk keuntungan lebih banyak.

Taurian ini juga bukan social climber yang ngotot. Peran-peran kecil ia mulai sejak tahun 2004 saat usianya 18 tahun untuk film Vanity Fair menapak setapak demi setapak untuk kemudian mendapatkan peran lagi di Harry Potter and the Goblet of Fire, Twilight dan film yang sedang diproduksi Bel Ami, Water For Elephants, dan Unbound Captives yang akan tayang 2011. Peran-peran inilah yang kemudian membuatnya menjadi sohor.

Ia bukan orang yang suka memanfaatkan orang lain dan culas untuk mencapai mimpi-mimpinya dengan cara yang busuk, memeras dengan cara yang sangat halus, mengais sisi lemah orang lain agar ia memeroleh iba sehingga mendapatkan peran atau pekerjaan misalnya.

Ia juga tidak memanfaatkan sang pacar untuk mendongkrak popularitas, atau  ‘nebeng’ hidup padanya. Ia tidak memperalat Stewart untuk ‘merayu’  para produser dan sutradara untuk membagi peran atau pekerjaan padanya. Pattinson adalah lelaki yang layak dengan berbagai kelebihan dan kepantasannya. Berbahagialah Kristen Stewart..

Iklan

Good Bye Twilight-ers!!!

ashley greene

Mungkin sebelumnya aku tidak kaget dan ambil pusing jika sutradara Twilight Catherine Hardwicke memecat Kellan Lutz dan Rachelle Lefevre. Tapi hari ini kembali US Magazine merilis bahwa Ashley Greene juga akan diberhentikan hanya karena meminta bayaran lebih dalam film Breaking Dawn, sekuel terakhir Twilight. (Twilight, New Moon, Eclipse dan Breaking Dawn).

Bisakah dipahami jika para pemain juga sama dengan pekerja di belakang layar lain, yang merasa bahwa mereka juga berhak mendapatkan apresiasi yang layak atas kerja keras mereka. Tercatat, Twilight meraup untung hingga US$706 juta, mengalahkan James Bond. Padahal biaya pembuatan film sangat kecil dibanding Quantum of Solace yang head to head waktu penayangannya. Konon, sekuel New Moon pun mampu melibas pendapatan Twilight. Ini artinya semakin banyak ‘penonton baru’ yang terinfeksi. Jadi keinginan mereka untuk menaikkan posisi tawar kuanggap kewajaran.

Greene, dengan perannya sebagai Alice Cullen memang tidak terlalu menonjol. Tetapi kehadirannya mampu mencuri perhatian. Dan dia mendapatkan adegan-adegan yang pas dan mampu mengekspose kemampuan aktingnya, terutama saat adegan-adegan menegangkan, contohnya: saat  Edward bernegosiasi dengan vampir senior di Volterra, Italia.

Kristen Stewart, Taylor Lautner and Robert Pattinson sebagai pemegang peran-peran kunci selalu membutuhkan peran-peran sekunder seperti Alice untuk mendukung akting mereka. Jika ini film terakhir, aku pikir chemistry mereka sebagai pemain juga sudah terbentuk. Anggap saja ini seperti hubungan percintaan yang membutuhkan chemistry dan mampu memproduksi medan magnet yang kuat.

Chemistry inilah yang sanggup menarik penonton untuk bertahan menyaksikan sebuah episode kelanjutan bukan justru berpikir, apakah peran penggantinya pas atau tidak. Aku pikir bahwa kehadiran orang baru ini nantinya akan sangat mengganggu karena penonton, yang sangat loyal dan mengaku Twilighter akan sibuk membandingkan akting mereka dibandingkan serius menikmati filmnya.

Ya aku katakan menikmati. Sesungguhnya, film ini memang tidak ada isinya sama sekali. Film vampire dan warewolf, lengkap dengan cerita cinta-cintaan.. apa menariknya selain hiburan? Tapi itu juga kebutuhan penonton dengan situasi tertentu. Jika semua orang berpikir, harus menonton film yang berisi dan mendidik, ya itu soal lain.

Setiap orang pasti akan membutuhkan oase tanpa harus dipaksakan. Menonton sama juga seperti pilihan yang lain, mempunyai motif. Motif informasi, hiburan, mendidik atau juga kebutuhan mempengaruhi dan dipengaruhi..

Jika Leila S. Chudori menulis: resensi film itu bernilai nol di hadapan penggemar fanatik, aku sepakat. Sama seperti ketika penulis resensi film juga bisa subyektif karena fanatik alias nge-fans dengan Brad Pitt atau Ethan Hawke.. dan setiap menulis tentang film dan akting mereka selalu saja dipuji. Ya secara prinsip memang begitu adanya. Mbak Greene, sampai jumpa di The Apparition — tahun depan 😦 ..