Tag Archives: sinar mas

Greenpeace Bikin Sinar Mas Meredup

Bagaikan perempuan yang disodori test pack, produksi minyak sawit Indonesia bisa jadi surga ataupun neraka. Pekerja perkebunan mendapatkan menghidupan untuk keluarga, sarjana-sarjana Indonesia juga berdaya di “kandang” sendiri dengan mendapatkan pekerjaan yang layak. Setelah Unilever dan Burger King menghentikan pembelian minyak sawit Indonesia, kelompok lingkungan hidup Greenpeace ingin Cargill, Pizza Hut dan Dunkin Donuts melakukan hal yang sama dengan cara memutuskan kontrak pembelian minyak sawit dari PT Sinar Mas Agro Technology – Indonesia.

Isu illegal logging mejadi perhatian mereka selain rabat dari fast moving consumer goods yang mereka jual. Akibat jangka pendeknya, produsen sawit akan menghentikan atau mengurangi produksi dan ini berimbas pada pekerja yang akan mengalami perampingan, pengurangan jam masuk atau bahkan yang paling tragis kehilangan pekerjaannya.

Berlawanan dengan itu, orang-orang yang peduli lingkungan dan pekerja Greenpeace menyatakan bahwa Sinar Mas telah menyalahi pembabatan hutan juga semakin keras bekerja. Dengan tingginya permintaan, produsen wajib memproduksi sesuai quota permintaan dengan cara memperluas perkebunan.

Memperluas perkebunan artinya membabat rawa gambut dan hutan sekunder bahkan menghancurkan hutan tropis. Padahal hutan ini berperan sebagai filter untuk menyerap karbondioksida penyebab perubahan iklim global.

Unilever yang berpusat di Rotterdam pada pertengahan Desember tahun 2009 lalu telah memutuskan kontraknya dengan tudingan Sinar Mas menghancurkan hutan tropis. Kenyataan ini tidak seiring sejalan dengan komitmen perusahaan makanan dan kosmetika Inggris-Belanda yang ingin memanfaatkan sumber daya alam berkelanjutan. Padahal selama ini Unilever memanfaatkan minyak sawit untuk pembuatan margarine, sup, es krim, saus serta produk-produk kecantikan.

Burger King pun menyatakan alasan yang sama. Meski Sinar Mas kecewa dengan keputusan rekanannya, mereka tetap akan berusaha kembali meyakinkan perusahaan Amerika Serikat itu. Menurut desas desus, Nestle dan Kraft Foods juga sudah dikabarkan memiliki hubungan yang buruk dengannya.

Jika saja perusahaan Indonesia tidak terlalu rakus dan sadar dengan kemampuan produksinya, tentu saja kejadiannya akan lain.  Menurutku, tidak penting bagi Indonesia menjadi produsen sawit terbesar di dunia sejauh masih bisa mencukupi kebutuhan minyak sawit dalam negeri demi kemakmuran negeri sendiri. Kita sudah terlalu sering menjual barang-barang mentah yang dijual ke negara lain dengan harga murah, kemudian diolah dengan segala kreatifitas dan ide-ide segarnya, akhirnya kita sendiri tidak bisa menikmatinya karena tidak mampu membeli.